Sutradara : Naom Murro
Penulis Naskah : Zack Snyder, Kurl Johnstad
Pemain: Sulvian Stapleton, Rodrigo Santoro, Eva Green, Jamie Blackley
Produser: Zack Snyder, Debra Snyder, Marck Canton
Genre : Aksi, Petualangan, Drama
Tanggal Rilis : 07 Maret 2014
Srudio : Warner Bros. Pictures
Sinopsis Film 300: Rise of an Empire.
Masih ingat dengan film berjudul 300 yang diadaptasi dari sebuah novel berjudul
sama yang filmnya dirilis pada tahun 2007 lalu. Nah, dalam waktu dekat ini akan
dirilis sekuel dari film yang bercerita tentang peperangan antara pasukan
Persia dengan Spartan tersebut. Film kedua ini berjudul 300: Rise of an Empire.
Film 300: Rise of an Empire ini disutradarai oleh Noam Murro, sedangkan Zack Snyder, sutradara film pertama berperan sebagai produser. Dalam film kedua ini sosok Xerxes masih diperankan oleh Rodrigo Santoro. Untuk pemeran protagonis dimainkan oleh aktor Sullivan Stapleton yang berperan sebagai Jenderal Themistokles.
Sebelum Raja Leonidas membawa 300 prajurit terbaiknya dari Sparta untuk mengalahkan Raja Xerxes (Rodrigo Santoro) dari Persia, adalah seorang Themistokles (Sullivan Stapleton). Dia adalah pemimpin armada perang Yunani. Themistokles-lah yang membunuh Raja Darius (Igal Naor), ayah dari Xerses, kala pasukan Persia menginvasi Yunani beberapa tahun sebelumnya.
Tidak hanya Xerses yang berduka. Panglima perang Persia yang bernama
Artemisia (Eva Green) amat kehilangan raja yang mengasuhnya sejak remaja itu.
Kebenciannya kepada orang Yunani makin memuncak. Dengan muslihatnya, Artemisia
memengaruhi Xerses untuk membalaskan dendam Raja Darius. Xerses yang telah
dirasuki kejahatan mengumumkan perang untuk membumihanguskan Tanah Para Dewa.
Walaupun Xerses datang dengan ratusan ribu pasukan di darat dan air,
Themistokles tidak takut. Dengan kehebatan taktiknya di air, dia berhasil mempermalukan
Artemisia dan para jendralnya yang terkenal mengerikan pada awal pertempuran.
Padahal para prajurit Yunani hanya menggunakan kapal kayu biasa. Mereka dengan
gagah berani melawan pasukan Persia yang memiliki kapal besar yagn tampak
angker. Namun, Artemisia sukses pula memperkecil jumlah pasukan Yunani dengan
metode perang yang sinting.
Themistokles pun meminta bantuan bala tentara dari Ratu Gorgo (Lena
Headey), istri Leonidas. Namun, amat berat untuk meyakinkan kaum Sparta yang
menolak bersatu dengan Yunani.
Sudah delapan tahun sejak terakhir kali saya dipukau oleh “300”.
Bila dulu film “300” dibesut dan ditulis oleh Zack, kali ini “300: ROAE”
digarap oleh Noam Murro. Adapun Snyder ‘turun tahta’ di kursi penulis.
Untungnya, keseruan lewat aksi dan efek visual tidak menurun. Gaya Snyder yang
demen menggunakan efek slo-mo tetap menyenangkan. Yang agak lebay mungkin
muncratan darah yang seperti oli.
Saya jadi paham ihwal pertentangan antara kaum demokratik Yunani
yang berpusat di Athena dengan kaum Sparta yang menolak bergabung dengan
Yunani. Para Sparta terkesan barbar dan amat mengutamakan harga diri. Adapun
kaum Athena tetap menggunakan rasio dan jajak pendapat tanpa meninggalkan
kehormatan diri.
Cerita dalam film ini tidak terlalu banyak. Intinya adalah aksi
tarung dalam perang megah yang disuguhkan dalam efek visual yang memanjakan
mata. Sullivan Stapleton dan Eva Green menghidangkan adu akting jempolan. Kalau
mau diberi skor, Sullivan saya beri nilai tujuh sementara Eva saya beri nilai
8,5! Itu lantaran sosoknya sebagai Artemisia yang cukup menghantui lewat
keganasan yang dibalut kecantikan.
Tidak lupa juga film ini menjadi panggung untuk Jack O’Connell yang
menjadi Calisto, seorang prajurit muda yang tak kenal takut. Film ini
menegaskan bakat Jack yang kerap bermain di film-film bagus seperti “Harry
Brown”, “This is England”, dan “Starred Up”.
Saya amat menantikan, bila ada, kelanjutan film ini. Saya belum
lihat bagaimana pertarungan epik antara pasukan Yunani melawan bala tentara
yang dipimpin Xerses. Porsi Xerses belum tergali banyak.
Kelemahan :
Film ini terlalu banyak menampilkan visualisasi darah berwarna hitam
kemerahan yang berceceran dan muncrat kemana-mana. Bagi yang tidak terbiasa
melihat darah mungkin bisa membuat kepala pusing. Dengan efek komputerisasi CGI
terlihat semua orang termasuk Themistokles memiliki tubuh atletis dengan dada
yang bidang dan perut six pack. Sedikit kelemahan, kadang kala
Themistokles terlihat dadanya tidak bidang dan perutnya one pack.
Kelebihan : :
Penampilan Sullivan Stapleton cukup lumayan namun dalam berpidato di depan orang banyak intonasi suara dan karisma suara terasa kurang menggelora. Untunglah suara musiknya membantu membangkitkan suasana itu. Akting Eva Green cukup bagus dengan tatapan matanya yang memang menunjukkan sifat jahatnya.
Penampilan Sullivan Stapleton cukup lumayan namun dalam berpidato di depan orang banyak intonasi suara dan karisma suara terasa kurang menggelora. Untunglah suara musiknya membantu membangkitkan suasana itu. Akting Eva Green cukup bagus dengan tatapan matanya yang memang menunjukkan sifat jahatnya.
Saran:
Film ini tidak membosankan karena ceritanya berbeda dengan seri
pertama. Bila seri pertama peperangan dilakukan di darat maka pada seri kedua
ini dilakukan di laut. Mungkin saja pada seri ketiga nanti peperangan akan
dilakukan di udara, siapa tahu. Selamat menonton.
Geen opmerkings nie:
Plaas 'n opmerking